Peristiwa Isra' wal Mi'raj nabi besar Muhammad Sallalahu
'Alaihi wa Salam memang luar biasa. Peristiwa yang sulit diterima nalar dan
hanya iman yang dapat membenarkan peristiwa tersebut.
Dikisahkan bahwa ada seorang pendeta yang sangat pintar dan
berpengaruh di kota Baghdad yang hidup di zaman Tuan Sulthan Aulia Sayyidi
Syaikh Abdul Qadir al Jailani Ra. Pendeta itu juga mempunyai banyak pengikut. Ia mempunyai
pengetahuan yang luas. Tidak hanya ilmu tentang agamanya. tetapi bahkan tentang
agama Islam.
Ia mengetahui seluruh
isi Al Quran dan sangat menghormati Baginda Nabi Muhammad S.A.W. Khalifah
pimpinan pemerintahan Islam saat itu pun juga menghormati pendeta tersebut dan
berharap agar nanti sang pendeta mendapatkan hidayah ALLAH untuk masuk ke agama
Islam beserta jama'ah pengikutnya.
MENGHORMATI
RASULULLAH TAPI MERAGUKAN ISRA' MI'RAJ
Sebenarnya pendeta
itu sangat ingin masuk Islam. Hanya saja dia meragukan akan peristiwa Isra
Mi'raj nya Nabi Muhammad. Ia meragukan bahwa peristiwa itu terjadi dengan ruh beserta
jasad Beliau S.A.W.
Perjalanan dari
Mekkah ke Yerusalem di Palestina pada masa itu apabila ditempuh naik kuda atau
unta pun akan memakan waktu sekian lamanya. Belum lagi berita bahwa kemudian
Baginda Rasulullah naik ke tujuh lapis langit dan menyaksikan beberapa hal
serta menerima perintah agama. Rasulullah diperlihatkan surga, neraka dan
bertemu ALLAH S.W.T. yang menyampaikan 9000 kata.
Menurut kabar, saat
Rasulullah selesai melakukan perjalanan Isra' wal Mi'raj lalu pulang ke
rumahnya di Mekkah, kasur beliau masih terasa hangat. Bahkan daun yang
tersentuh sewaktu berangkatpun belum berhenti bergoyang. Akal pendeta itu tidak
bisa menerima akan peristiwa Isra Mi'raj Baginda Nabi Saw.
Khalifah Amirul
Mukminin di Baghdad akhirnya mengundang para arif bijaksana dan para alim ulama
serta para syaikh guru besar yang mulia untuk meyakinkan akan pendeta tersebut
tentang Isra Mi'raj. Namun tak ada yang mampu.
BERTEMU SYAIKH ABDUL
QADIR AL JAILANI
Kemudian suatu sore,
khalifah memohon kepada hadrah yang mulia, Tuan Syaikh Abdul Qadir al Jailani
untuk meyakinkan si pendeta dan menjelaskan akan kebenaran peristiwa Isra
Mi'raj.
Ketika Tuan Syaikh
Abdul Qadir datang ke istana khalifah, sang pendeta dan khalifah sedang bermain
catur. Saat sang pendeta mengangkat bidak catur, tiba-tiba matanya beradu
pandang dengan Tuan Syaikh Abdul Qadir al Jilani. Kemudian sang pendeta
memejamkan mata dalam sekejap.
Saat membuka matanya,
tiba-tiba dia sudah berada di sebuah sungai yang airnya sangat deras dan dia
sedang terhanyut di dalamnya. Pendeta pun berteriak minta tolong dengan suara
tinggi. Seorang pengembala arab muda yang kebetulan sedang menggembala di dekat
sungai itu, segera melompat cekatan ke dalam sungai untuk menolong sang
pendeta.
KAROMAH SANG SYAIKH
Ketika pemuda itu
memeluknya, sang pendeta sadar bahwa pakaiannya sedang terlepas sedangkan
dirinya melihat fisiknya sendiri sekarang berubah menjadi seorang gadis. Si
pemuda pengembala itu menariknya keluar sungai dan menanyakan asal usulnya
serta alamat si gadis alias sang pendeta. Gadis itu pun mengatakan bahwa ia
berasal dari kota Baghdad.
Pengembala mengatakan
bahwa perlu waktu berbulan- bulan untuk sampai menuju kota Baghdad. Pemuda
pengembala itu menjaganya, menghormatinya dan menyayanginya. Karena tidak ada
tempat untuk tinggal, terpaksa pendeta yang telah berubah wujudnya menjadi
gadis itu pun ikut ke rumah pengembala muda dan akhirnya mereka menikah.
Sekian lama mereka
menikah, mereka pun mempunyai 3 orang anak. Suatu hari saat isteri pengembala
itu alias sang pendeta hendak mencuci pakaian di tepi sungai yang dulu pernah
menghanyutkannya. Lama dia amati sungai itu hingga tak sadar dia pun
tergelincir jatuh ke air sungai. Seketika itu pula sang pendeta tersadar dan
membuka matanya.
Ia dapati dirinya lagi
sedang duduk di hadapan Khalifah bermain catur dan berpandangan mata dengan
Hadrah Tuan Asy Syaikh Abdul Qadir al Jailani Ra yang berkata kepada pendeta
"Wahai pendeta yang malang. Apakah engkau belum mau mengakui tentang Isra
Mi'raj?"
MENYATAKAN KEBENARAN
ISRA' MI'RAJ
Pendeta yang masih
ragu itu menganggap apa yang dialaminya baru saja hanyalah mimpi belaka, yang
entah bagaimana bisa hadir dalam sekejap selama ia matanya terpejam ketika
berkedip tadi.
"Apa yang Tuan
maksud?" kata pendeta tersebut.
"Apakah engkau
ingin bertemu dengan suami dan ke tiga anakmu ?" tanya tuan Syekh sambil
membuka pintu istana. Tampaklah di depan Istana telah berdiri seorang pria dan
ketiga orang anaknya. Pria itu adalah pengembala dalam "mimpinya".
Pengembala yang menjadi suami dan ayah dari ketiga anaknya.
Mengalami terjadi
peristiwa itu, sontak sang pendeta pun masuk Islam dan menyatakan akan
kebenaran peristiwa Isra Mi' raj Baginda Nabi Muhammad S.A.W. dan bersyahadat
dengan dibimbing oleh Tuan Hadrah Sulthanul Auliya Syaikh Abdul Qodir Al
Jailani. Raja seluruh wali ALLAH Subhanahu wa Ta'ala.
Sumber (Disunting
Oleh Admin) :
Tulisan Muhammad Amin
Muhibburrosul di situs Facebook

No comments:
Post a Comment